TENTANG DOA BERBUKA PUASA

(foto : Firdaus Muhammad)

Pertanyaannya apakah benar doa berbuka puasa yang diamalkan oleh masyarakat selama ini hanya bersandar pada hadits yang dhaif? Apakah benar kualitas hadits riwayat Abu Dawud terkait doa berbuka puasa lebih shahih dibandingkan hadits yang diamalkan oleh masyarakat selama ini? Mari kita perhatikan keterangan berikut ini. Hadits lengkap riwayat Abu Dawud berbunyi sebagai berikut:

 حدثنا عبد الله بن محمد بن يحيى أبو محمد حدثنا علي بن الحسن أخبرني الحسين بن واقد حدثنا مروان يعني ابن سالم المقفع قال رأيت ابن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف وقال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله 

Artinya, “Kami mendapat riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Yahya, yaitu Abu Muhammad, kami mendapat riwayat dari Ali bin Hasan, kami mendapat riwayat dari Husein bin Waqid, kami mendapat riwayat dari Marwan, yaitu Bin Salim Al-Muqaffa‘, ia berkata bahwa aku melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya, lalu memangkas sisanya. Ia berkata, Rasulullah bila berbuka puasa membaca, ‘Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insyâ Allah’,” (HR Abu Dawud)

Sementara doa berbuka puasa yang kerap diamalkan masyarakat, yaitu “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu,” bersumber dari riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai keterangan Syekh M Khatib As-Syarbini berikut ini:

 وأن يقول عقب فطره اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت لانه صلى الله عليه وسلم  كان يقول ذلك رواه الشيخان 

Artinya, “(Mereka yang berpuasa) dianjurkan setelah berbuka membaca, ‘Allâhumma laka shumtu, wa ‘alâ rizqika afthartu.’ Pasalnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengucapkan doa ini yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,” (Lihat Syekh M Khatib As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Kalau mau dilihat tingkat kesahihannya, doa riwayat Bukhari dan Muslim jelas lebih shahih dibandingkan sekadar riwayat Abu Dawud berdasarkan kesepakatan ulama ahli hadits. Dari sini sudah jelas bahwa doa yang diamalkan masyarakat selama ini sudah benar dan didukung oleh hadis yang shahih dan kuat

Percayalah, apa yg diajarkan guru2 kita sejak dulu tentang hal ini adalah pendapat yg muktabar ✓

1. Madzhab Hanafi

IMAM AZ-ZAILA'I Rahimahullah mengatakan :

ومن السنة أن يقول عند الإفطار : "اللهم لك صمت وبك آمنت وعليك توكلت وعلى رزقك أفطرت".

Diantara Sunnah adalah ketika kau bacakan saat berbuka puasa : "Allahumma Laka Shumtu Wa 'Ala Rizqika Afthartu".

[Tabyin Al-Haqa'iq Syarh Kanzu Al-Haqa'iq : 1/324]

2. Madzhab Maliki

IMAM AN-NAFRAWI Rahimahullah mengatakan :

ويقول ندبا عند الفطر : "اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فاغفر لي ما قدمت وما أخرت"، أو يقول : "اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت، ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله".

Dan disunnahkan berdoa ketika berbuka puasa : "Allahumma Laka Shumtu Wa 'Ala Rizqika Afthartu, Faghfirli Maa Qaddamtu Wamaa Akhartu", atau membaca : "Allahumma Laka Shumtu Wa 'Ala Rizqika Afthartu, Dzahabazh Zhoma'u Wabbtallatil 'Uruqu Wa Tsabatal Ajru Insya ALLAH".

[Al-Fawakih Ad-Dawani : 1/305]

3. Madzhab Syafi'i

IMAM NAWAWI Rahimahullah mengatakan :

والمستحب أن يقول عند إفطاره : "اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت"، لما روى أبو هريرة قال " كان رسول الله صلي الله عليه وسلم إذا صام ثم أفطر قال : "اللهم لك صمت وعلي رزقك أفطرت".

Dan disukai untuk membaca doa ketika berbuka puasa : "Allahumma Laka Shumtu Wa 'Ala Rizqika Afthartu", dikarnakan ada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata : Bahwa RASULULLAH Shalallahu’alaihi Wa Sallam apabila berpuasa lalu beliau berbuka dengan mengucapkan : "Allahumma Laka Shumtu Wa 'Ala Rizqika Afthartu".

[Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab : 6/362]

4. Madzhab Hanbali

IMAM AL-BAHUTHI Rahimahullah mengatakan :

و يسن أن يدعو عند فطره، فإن له دعوة لا ترد، لما روى ابن ماجه من حديث عبد الله بن عمرو للصائم عند فطره دعوة لا ترد، ويسن أن يقول عند الفطر : "اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت".

Disunnahkan berdoa di saat menjelang berbuka karena bagi orang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak, berdasarkan riwayat Ibnu Majah dari hadits Abdullah Bin 'Amru bahwa orang yang berpuasa itu mempunyai doa yang tidak ditolak ketika sedang berbuka, maka disunnahkan membaca menjelang berbuka : "Allahumma Laka Shumtu Wa 'Ala Rizqika Afthartu".

[Qasyful Qina' 'An Matan Al-Iqna' : 2/284]

Lalu bagaimana dengan doa riwayat Abu Dawud? Karena juga mengetahui ada doa dari riwayat perawi lainnya, ulama dari Madzhab Syafi’i menggabungkan doa riwayat Imam Bukhari dan Muslim dengan doa riwayat Abu Dawud. Demikian disebutkan Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyatul Bujairimi berikut ini:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ( ويسن أن يزيد على ذلك وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ.

Artinya, “(Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu) dianjurkan menambahkan lafal, wa bika âmantu, wa bika wa ‘alaika tawakkaltu. Dzahabaz zhama’u, wabtallatil ‘urûqu, wa tsabatal ajru, insyâ Allah. Yâ wâsi‘al fadhli, ighfir lî. Alhamdulillâhil ladzî hadânî fa shumtu, wa razaqanî fa afthartu,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Artinya, “Tuhanku, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Sebab dan kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah. Dan insya Allah pahala sudah tetap.

Wahai Zat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.”

Dari sini keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa para ulama terdahulu sangat bijak dalam mengatasi perbedaan riwayat. Mereka menggabungkan dua riwayat yang berbeda tanpa menegasikan, menyalahkan, atau mengecilkan riwayat lain.

Gabungan dua riwayat ini kemudian disuguhkan kepada masyarakat yang kemudian diamalkan turun-temurun oleh mereka hingga kini. Doa ini dibaca setelah setelah mereka membatalkan puasanya.

Penulis : Firdaus Muhammad (Kader Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh)

Share

Unggulan

Kesempatan Emas Untuk Pemuda Yang Ingin Belajar Jadi Imam dan Penceramah. Yuk Daftar!

Banda Aceh - Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh mengadakan pelatihan Imam dan Penceramah menjelang bulan Ramadhan, ini m...