Apakah Maulid Nabi itu Bid’ah??
“(1) Alif Lám Mìm. (2) Bangsa Romawi telah dikalahkan. (3). di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang. (4) dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. (5) karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa. Maha Penyanyang.” (QS. Ar-Rūm: 1-5)Ayat-ayat tersebut diturunkan ketika raja Persia yang bernama Sabur mendapat kemenangan atas negeri syam atau yang lebih di kenal yaitu Syria dan beberapa negeri Jazirah lainnya yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Romawi. Bangsa Romawi (pada saat ayat ini di turunkan) ialah suatu bangsa yang beragama Nasrani dan memiliki Kitab Suci, sedangkan Bangsa Persia beragama Majusi, menyembah api dan berhala (musyrik). Kedua bangsa ini berperang dan ketika tersiar berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia, kaum musyrik Mekkah menyambutnya dengan penuh gembira karena berpihak kepada kaum musyrikin Persia. Sedang kaum muslimin berduka cita, lalu turunlah ayat ini dan ayat berikutnya menerangkan bahwa bangsa Romawi setelah kekalahan itu akan menang dalam masa beberapa tahun saja. Hal itu benar-benar terjadi. Beberapa tahun setelahnya, menanglah bangsa Romawi dan kalahlah bangsa Persia. Pada hari kemenangan itu orang yang beriman bergembira dengan pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada bangsa Romawi.
Kenapa orang berimanan bergembira?
Orang yang beriman bergembira atas kemenangan bangsa Romawi termasuk Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukminin, walaupun mereka tidak berperang. Karena bangsa Romawi (pada saat ayat ini di turunkan) memiliki agama yang hampir sama dengan agama tauhid di bandingkan dengan bangsa Persia yang menyembah api. Dalam hal ini Rasulullah SAW dan kaum mukminin berbagi kebahagian kepada orang lain, namun pada zaman kita sekarang ini jika ada suatu golongan yang bergembira, kita dengan mudah sakit hati, iri dengki, dan kita tidak menyukainya. Ada juga ketika bergembira terhadap perkara-perkara yang baik seperti maulid nabi itu langsung dikatakan bid’ah tidak ada di masa Rasulullah SAW, walaupun belum mengetahui dalil tentang suatu perkara tersebut. Bagaimana dengan kaum muslimin yang bergembira terhadap kaum Romawi yang bukan beragama islam (kaum Kristen) yang mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kemenangan daripada bangsa Persia. Sedangkan kita mendapat hidayah karena Rasulullah SAW, kita merasakan nikmatnya islam karena perjuangan Rasulullah SAW.
Apakah tidak boleh bergembira di hari kelahiran Rasulullah SAW?
Rasulullah SAW dan kaum mukminin bergembira ketika bangsa Romawi (kaum Kristen) yang menang terhadap peperangan melawan bangsa Persia. Kita bergembira pada hari kelahiran Rasulullah SAW itu masih dikatakan bid’ah. Dimana diletakkan sudut pemikiran yang rusak seperti itu, tidak bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya. Kegembiraan bukan persoalan zat/wujudnya tapi sebab dan cara apa yang kita gunakan untuk bergembira. Kalau misalkan orangtua bergembira terhadap anaknya yang mendapatkan prestasi di sekolah kemudian membuat sebuah acara syukuran dengan cara yang tidak baik atau dengan perkara-perkara yang di haramkan oleh Allah SWT. Ini merupakan kegembiraan bukan pada tempatnya, walaupun sebabnya di bolehkan dalam syara’ namun caranya yang tidak baik. Bergembiralah dengan cara-cara yang baik yang sesuai dengan syara’. Dalam hal bergembira di hari lahirnya Rasulullah SAW atau Maulid Nabi dengan mengingat sirah, akhlak dan budi pekerja Rasulullah SAW tidak seorang pun yang mengatakan tidak baik, kemudian cara mengungkapkan kegembiraannya dengan cara beri’tikaf di masjid, bershalawat kepada Rasulullah SAW, berzikir, bersadaqah, mendengarkan ceramah dan sebagainya, cara seperti ini dari segala aspek kita dapatkan kebaikannya baik itu pahala beri’tikaf, bershalawat, berzikir, sadaqah, ilmu dan silaturrahim. Semoga kita termasuk orang-orang yang bergembira pada hari kelahiran Rasulullah SAW dan kelak kita mendapatkan syafaatnya. Wallahu `alam bishawab
Ambia Al-Yusuf : Ketua II RMRB ACEH
