Kunci Sukses Dalam Menuntut Ilmu Menurut Syaikh Az Zarnuji
Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib, bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.
Hadis di atas tentunya sudah tidak asing di benak kita, bahwa kewajiban menuntut ilmu itu diperuntukkan bagi setiap orang Islam. Syaikh Az Zarnuji pun menjelaskan, bahwa diwajibkan pula atas seorang Muslim, mempelajari ilmu yang dibutuhkan dirinya sekarang ini, dan juga ilmu yang dapat diamalkan kapan saja dan dimana saja.
Mengapa wajib bagi setiap Muslim untuk menuntut ilmu? Karena ada banyak keutamaan ilmu. Beberapa keutamaan ilmu diantaranya adalah:
- Ilmu adalah kekhususan, ilmu adalah keistimewaan yang Allah subhanahu wa ta’ala khususkan hanya untuk manusia semata. Selain ilmu, manusia dan hewan memiliki kesamaan.
- Ilmu dapat mengantarkan seseorang menuju kepada kebajikan dan ketaqwaan. Dan sebab ketaqwaan itu, seseorang dapat memperoleh kemuliaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, dan kebahagiaan abadi.
Keutamaan akan ilmu ini seyogyanya dapat menjadikan setiap Muslim senantiasa bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
Syaikh Az Zarnuji mengatakan, bahwa diantara hal yang penting dalam menuntut ilmu yang harus diperhatikan adalah fil jiddi (kesungguhan). Jika sesuatu dilakukan dengan kesungguhan, maka Allah subhanhu wa ta’ala akan memberikan keberhasilan di dalamnya. Selain kesungguhan (al jiddu), juga perlu diiringi dengan sikap kesungguhan yang terus menerus (al muwazobah) dan komitmen (al muzallimah) dalam menuntut ilmu. Tiga sikap ini harus ada dalam diri pelajar (orang yang belajar) dan berjalan beriringan, tidak dapat hanya salah satu saja.
Wajib bagi setiap pelajar, bersungguh-sungguh, terus menerus, dan komitmen, tidak berhenti hingga tujuan dalam menuntut ilmu tercapai. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Maryam: 12 yang artinya, “Wahai Yahya, ambillah kitab (itu) dengan kuat”, dan dalam QS Al Ankabut: 69 yang artinya, “Dan orang-orang berjuang, untuk mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan mereka jalan-jalan menuju Kami”.
Dikatakan oleh Az Zarnuji, barangsiapa yang mencari sesuatu dan dilakukannya dengan sungguh-sungguh, pasti dia akan mendapatkannya. Dan barangsiapa yang mengetuk pintu dengan terus menerus, pasti dapat masuk. Dikatakan pula, bahwa sesuai dengan kesungguhannya, seseorang akan mendapat apa yang menjadi harapannya.
Dalam konteks kesungguhan ini, Az Zanurji menjelaskan bahwa kesulitan yang dihadapi seseorang akan dapat selesai dengan kesungguhan, terutama kesulitan yang dihadapi dalam proses belajar. Allah akan memberikan pertolongan pada seseorang jika Allah menghendaki. Kesulitan dapat selesai dengan kesungguhan adalah menjadi anugerah Allah subhanahu wa ta’ala dan berada dalam kekuasaan-Nya.
Kesungguhan dalam belajar dan memperdalam ilmu bukan hanya dari pelajar semata namun kesungguhan ini juga dibutuhkan kesungguhan dari tiga (3) orang, yakni pelajar (murid), guru, dan orang tua. Jika murid, guru, dan orang tua sungguh-sungguh, insya Allah itu akan berhasil, kesulitan (dalam menuntut ilmu, dalam belajar) akan dapat terselesaikan, insya Allah. Manusia diperintahkan Allah untuk belajar dan belajar. Hanya saja memang kualitas akal manusia itu berbeda-beda. Nah, kesungguhan inilah yang menjadi kunci. Dengan kesungguhan ini, sesuatu yang sulit itu insya Allah akan dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Bagaimana ilmu itu dapat diperoleh tanpa melalui kesulitan? Banyak diantara kita ini memiliki cita-cita, memiliki keinginan, namun jika tidak diiringi dengan kesungguhan, maka itu adalah kedustaan. Apapun cita-cita dan keinginan seseorang, jika diiringi dengan kesungguhan, maka insya Allah akan terwujud. Jika tidak diiringi dengan kesungguhan, maka itu adalah kegilaan. Kita harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Tanpa kesungguhan, maka kita adalah orang yang gila. Orang belum dapat dikatakan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, jika dia belum mendapatkan kepayahan yang sangat dalam menuntut ilmu. Allah akan memberikan jalan keluar untuk kesungguhan tersebut.
Masya Allah, merujuk pada materi di atas, maka pentinglah bagi setiap diri kita untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam belajar (menuntut ilmu). Semoga rangkuman materi ini dapat menjadi refleksi untuk diri kita, terlebih khusus bagi penulis pribadi. Insya Allah akan kita lanjutkan pembahasan mengenai kesungguhan dalam menuntut ilmu pada kesempatan berikutnya. Allahu’alam bish showab.
Referensi:
Materi kajian Kitab Ta’lim Muta’allim Syaikh Az Zanurji oleh Ustadz Muhammad Abdullah Sholihun yang dirangkum oleh penulis pada Ramadhan 1441 H.
sumber : kemahasiswaan.uii.ac.id
KEUTAMAAN AHLUSSUNNAH WAL-JAMA'AH
Keutamaan Ahlussunnah Waljama'ah
Oleh K.H Muhammad Idrus Ramli
Madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi merupakan representasi Ahlussunnah Wal-Jamaah dan al-firqah al-najiyah. Sudah barang tentu, madzhab tersebut memiliki sekian banyak keutamaan yang diisyaratkan dalam al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi ﷺ. Di antara dalil-dalil yang menjelaskan keutamaan madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi, adalah sebagai berikut :
Dalil Pertama
Allah SWT. berfirman dalam al-Qur'an :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِبِقَوْميُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ
Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya". (QS. al-Ma'idah : 54).
Ayat tersebut memberikan penjelasan, bahwa apabila orang-orang yang beriman menyatakan murtad atau keluar dari Islam, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum vang Allah cintai dan mencintai Allah. Pertanyaannya, siapa yang dimaksud dengan kaum yang Allah cintai dan mencintai Allah ? Dalam hadits shahih Rasulullah ﷺ menjelaskan :
عَنْ عِيَاضْ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ : لَمَّانَزَلَتْ (فَسَوْفَ يَأتِي اللّٰهُ بِقَوْمٍ ويحبونه ... قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ : هُمْ قَوْمُ هَذَا، وَأَشَارَإِلَى أَبِيْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ.
Artinya : "lyadh al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu berkata : Ketika ayat : Allah SWT. akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya., maka Rasulullah ﷺ bersabda sambil menunjuk kepada Abu Musa al-Asy'ari : Mereka adalah kaumnya laki-laki ini".
Hadits shahih riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak [3177] dan menilainya shahih sesuai persyaratan Muslim serta disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi.
Hadits di atas memberikan penjelasan, bahwa kaum Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu adalah kaum yang dicintai Allah dan juga kaum yang mencintai Allah. Hal ini berarti mengikutkan pada kesimpulan bahwa pengikut madzhab al-Asy'ari adalah kaum yang dicintai Allah dan mereka pun juga mencintai-Nya. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa setiap terjadi penisbatan kata kaum kepada seorang nabi di dalam al-Qur'an, maka yang dimaksudkan adalah pengikut nabi tersebut. Dan sudah barang tentu, Abu al-Hasan al-Asy'ari dan pengikut madzhabnya termasuk kaum Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, sehingga secara tersirat masuk dalam konteks ayat di atas. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam al-Qurthubi, ahli tafsir terkemuka dalam tafsirnya :
قَالَ الْقُشَيْرِيُّ : فَأَتْبَاعُ أَبِي الْحَسَنِ مِنْ قَوْمِهِ، لأَنَّ كُلَّ مَوْضِعٍ أُضِيْفَ فِيْهِ قَوْمٌ إِلَى نَبِيٍّ أرِيْدَبِهِ الْاَتْبَاعُ.
Artinya : "Al-Qusyairi berkata : Pengikut madzhab Abi al-Hasan al-Asy'ari termasuk kaum Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, karena setiap terjadi penisbahan kata kaum terhadap seorang nabi di dalam al-Qur'an, maka yang dimaksudkan adalah pengikutnya".
[Al-Imam al-Qurthubi, al-Jami' li-Ahkam al-Qur'an, juz 6, hlm. 220.]
Pernyataan al-Qusyairi di atas senada dengan pernyataan al-Imam al-Baihaqi dalam al-Risalah al-Asy'ariyyah, yang dikutip oleh al-Hafizh lbnu Asakir al-Dimasyqi dalam Tabyin Kidzb al-Muftari, ketika mengomentari hadits yang sama. Al-Baihaqi menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ, tentang kaum Abu Musa al-Asy'ari tersebut ada kaitannya dengan al-lmam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan pengikutnya, mayoritas umat Islam.
Dalil Kedua
Hadits sahabat Bisyr al-Khats'ami Radhiyallahu 'anhu,
عَنْ بِشْرٍالْخَثْعَمِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُفَلَنِعْمَ الْأَمِيرُأَمِيرُهَاوَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ.
Artinya : "Dari Bisyr al-Khats'ami Radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda : Kelak umatku akan benar-benar menaklukkan kota Konstantinopel. Maka sebaik-baik pemimpin, adalah pemimpin penaklukan itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan penakluk tersebut".
Hadits shahih riwayat Ahmad [18189], al-Thabarani dalam al-Mu'jam al-Kabir [1200], Abu Nu'aim dalam Ma'rifat al-Shahabah hlm 1101 dan al-Hakim dalam al-Mustadrak yang juga menilainya shahih. Al-Haitsami berkata dalam Majma' al-Zawa'id juz 6 hlm 219 : "Para perawi hadits ini dapat dipercaya".
Dalam hadits di atas, Rasulullah ﷺ memuji orang-orang yang menaklukkan Konstantinopel, sebagai sebaik-baik pasukan dan sebaik-baik panglima. Ternyata Konstantinopel ditaklukkan pada Selasa 20 Jumadal Ula 857 H/29 Mei 1453 M oleh Sultan Muhammad al-Fatih bin Sultan Murad Khan al-'Utsmani. Beliau bersama pasukannya, termasuk pengikut setia Ahlussunnah Wal-Jamaah, mazhab al-Asy'ari, mencintai kaum shufi, bertawasul dengan para nabi dan para wali, mengikuti thariqat shufi dengan pembimbing spiritual (mursyid thariqat) seorang ulama shufi terkemuka pada saat itu, yaitu Syaikh Aqa Syamsuddin. Mereka juga tekun merayakan maulid Nabi ﷺ, dan tradisi-tradisi shufi lainnya. Walid al-Sa'id, Tabyin Dhalalat al-Albani Syaikh al-Wahhabiyyah al-Mutamahdits, hlm. 85. Berarti hadits tersebut juga memuji kepada pengikut madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi, karena ajarannya sama dengan yang diikuti oleh Sultan Muhammad al-Fatih.
Dalil Ketiga
Hadits sahabat Imran bin Husain Radhiyallahu 'anhu :
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ إِنِّي عِنْدَالنَّبِيِّ ﷺ إِذْجَاءَهُ قَوْمٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُواالبُشْرَى يَابَنِي تَمِيمٍ قَالُوابَشَّرْتَنَافَأَعْطِنَافَدَخَلَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَاأَهْلَ الْيَمَنِ إِذْلَمْ يَقْبَلهَابَنُوتَمِيمٍ قَالُواقَبِلْنَاجِئْنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّينِ وَلِنَسْأَلَكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَاالْأَمْرِمَاكَانَ قَالَ كَانَ اللّٰهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌقَبْلَهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِكُلَّ شَيْءٍ.
Artinya : "Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu 'anhu, berkata : Aku bersama Nabi ﷺ, tiba-tiba datanglah kaum dari golongan Bani Tamim (penduduk Najd). Nabi ﷺ berkata kepada mereka : Terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim!. Mereka menjawab : Engkau telah memberi kami kabar gembira kepada kami, oleh karena itu berilah kami [harta benda]!. Lalu datanglah orang-orang dari penduduk Yaman. Nabi ﷺ berkata kepada mereka : Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena Bani Tamim tidak mau menerimanya!. Penduduk Yaman menjawab : Kami menerima kabar gembira itu wahai Rasulullah dengan senang hati. Kami datang kemari untuk mempelajari ilmu agama dan untuk menanyakan perihal permulaan apa yang ada di dunia ini!. Nabi ﷺ menjawab : Allah itu ada, pada saat sesuatu apa pun belum ada. Arasynya Allah itu ada di atas air. Kemudian Allah menciptakan langit dan bumi dan mencatat segala sesuatu dalam lauh mahfuzh".
Hadits shahih riwayat al-Bukhari [6868].
Hadits di atas memberikan gambaran, tentang perbedaan karakter penduduk Yaman dengan penduduk Bani Tamim yang tinggal di Najd. Penduduk Yaman yang hatinya sangat lembut dan sangat halus, karakter mereka mudah menerima dan mematuhi kebenaran serta mementingkan ilmu agama daripada meminta harta benda atau kekayaan duniawi. Hal tersebut berbeda dengan kaum Bani Tamim yang tinggal di Najd, yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu agama, tetapi lebih mementingkan harta benda dan meminta kekayaan duniawi kepada Nabi ﷺ.
Penduduk Yaman memiliki kemauan yang keras untuk mengetahui dan menanyakan persoalan penting dalam pandangan agama, yaitu seputar keesaan Allah yang bersifat qadim (tidak ada permulaannya) dan eksistensi alam yang bersifat baru (huduts) yang merupakan materi penting dalam pembahasan ilmu tauhid. Berdasarkan hadits tersebut, para ulama ahli hadits seperti al-Imam al-Baihaqi dan lain-lain berpandangan, bahwa karakter al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari yang gemar mendalami ilmu akidah dan mengantarnya menjadi pemimpin Ahlussunnah Wal-Jamaah dalam bidang akidah, merupakan karakter bawaan dari leluhurnya yang memiliki cita-cita yang luhur untuk menguasai ilmu pengetahuan dan mendalami persoalan akidah yang sangat penting dengan bertanya secara langsung kepada Nabi ﷺ.
Dalam hal ini al-Imam al-Baihaqi rahimahullah berkata :
قَالَ أَبُوْبَكْرٍالبَيْهَقِيُّ : وَفِيْ سَؤَالِهِمْ دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ الْكَلَامَ فِيْ عِلمِ الْأُصُوْلِ وَحَدَثِ الْعَالَمِ مِيْرَثٌ الأَوْلادِهِمْ عَنْ أَجْدَادِهِمْ.
Artinya : "Al-Imam Abu Bakar al-Baihaqi berkata : Pertanyaan penduduk Yaman kepada Nabi ﷺ tersebut, menjadi bukti bahwa kajian tentang ilmu akidah dan barunya alam telah menjadi warisan keluarga al-Asy'ari dari leluhur mereka secara turun temurun".
[Al-Hafizh Ibn Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, (Damaskus: Percetakan al-Taufiq, 1347 H), hlm. 66.]
Berdasarkan keterangan di atas, tidak aneh apabila di kemudian hari, dari kalangan suku al-Asy'ari lahir seorang ulama yang menjadi pemimpin Ahlussunnah Wal-Jamaah dalam memahami dan mempertahankan akidah yang diajarkan oleh Nabi ﷺ dan sahabatnya, yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari.
Waketum 1 RMRB Aceh : Memaknai Momentum Bulan Muharram 1444 H / 2022 M
![]() |
| (Foto : Zulfikri, S.H.I., M.Ag) |
Tahun baru Islam memiliki kesan dan makna yang mendalam tersendiri, tahun baru Islam diayakan pada tahun 1 Muharram tahun Hijriyah. Tahun baru Islam 1444 H untuk kali ini jatuh pada tanggal 30 Juli 2022. Berbeda dengan merayakan tahun baru baru masehi umat muslim mempunyai cara sendiri dalam memaknai dan menyongsong tahun baru Islam.
Sebagaimana pada tahun Masehi yang mempunyau dua belas bulan dalam
setahun, maka sama juga dengan jumlah bulan yang termuat dalam tahun Hijriyah.
Yang di awali dengan Muharram dan di akhiri dengan zulhijjah. Tahun baru Islam
ditandai dengan mulainysa bulan muharram.
Bulan Muharram juga disebut dengan syahrullah al Asham yang berarti
bulan Allah yang suci. Maka selain dilarang berperang, uamt muslim juga
dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan yang baik dan bernilai ibadah.
Salah satunya adalah puasa, hal itu sebagaimana dalam hadist dari Abu Hurairah
RA, ia menyebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada
syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama
setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim).
Dalam historis Islam, Tahun baru Hijriyah mendakan bahwa pernah
terjadinya peristiwa Hijrah Nabi Muhammad Saw dari Mekah menuju ke Madinah pada
tahun 622 M, Hijrah tersebut memiliki makna penting bagi umat Muslim, diantara
memaknai momentum hijrah Nabi tersebut diantaranya adalah:
Pertama, Semangat Perjuangan
Jika melihat kepada peristiwa Nabi Muhammad Saw. Tahun baru Islam
memiliki makna yang luar biasa, yakni semangat perjuangan yang tak kenal lelah
dan putus asa, memontem tersebut juga dapat di maknai akan semangat Hijrah
Rasulullah dari Mekah ke Madinah.
Nabi Muhammad bersama sahabatnya begitu semangat dan gigih yang tak
kenal lelah dalam menyebarluarkan agama Islam, meski dalam perjalan memiliki
banyak rintangan dan hambatan serta
cobaa bertubi yang di laluinya, Hingga membuat Nabi Muhammad harus Hijrah dari
Kota Mekah ke Madinah, meninggalkan kota kelahirannya, sauadara dan harta benda
demi memenuhi perintah dan wahyu yang diberikan Allah Swt.
Kedua, Momentum
Berlomba dalam kebaikan
Selanjutnya makna yang dapat diambil daripada tahun baru Islam
adalah melahirkan kesadaran unutk selalu dalam kebaikan, dan yang tak kalah
pentingnya adalah yaitu berusaha untuk selalau bermanfaat untuk orang lain dan
seluruh alam semesta demi semangat tulus ikhlas untuk mendapatkan rahmat dan
ridha Allah Swt.
Sebagai hadis mengatakan :
خير الناس أنفعهم للناس
Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
Hadits tersebut, menjelaskan bahwa, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain, ramah, dan suka menolong sesama atau memberikan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Orang demikian juga paling dicintai Allah SWT.
Ketiga, Memaknai pentingnya perdamaian
Berikutnya adalah memaknai tahun baru Islam yaitu pentingnya perdamaian, seperti yang telah disebutkan Muharram adalah salah satu daripada empat bulan haram atau yang memiliki keistimewaan dan paling mulia, hal terebut dikarenakan seagala perbuatan baik yang dibuatnya akan dibalaskan dengan berlipat ganda oleh Allah Swt..
Maka oleh sebab itu umat Islam diharamkan unutk berperang atau melakukan kezaliman, sebab semangat muharram adalah semangat perdamaian. ‘
Keempat, Bertafakkur
dan Tazakkur
Memaknai dan memperinagti, seroang mukmin hendaknya semakin menjadi Insan yang suka tafakur (berpikir) dan tadzkur ( merenung). Tafakur yang dimaksud diantaranya adalah intropeksi diri yakni mengingat kembali dan meghitung amalan yang telah diperbuat ditahun sebelumnya, selanjutnya baru tadzakkur akan dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya hingga hatinya betul-betul menyesal dan beristigfar serta memohon ampunan dari Allah Swt.
Kelima, Mengumpulkan Pahala
Sebagaimana yang disebutkan diatas muharram adalah bulam mulia, bahkan karena kemuliannya bulan ini disebut sebagai bulan Allah. Bagi umat muslim bulan ini dijadikan sebagai kesempatan untuk mendulang pahala yang berlupat ganda. Banyak amalan yang bisa dilakukan pada bulan ini salah satunya adalah puasa, yang bisa dilakukan pada tanggal 1 muharram atau tanggal 9 yang dikenal dengan puasa tasu’a, atau bisa juga dilanjutkan pada tanggal 10 Muharram yakni puasa Asyura. Puasa Asyura sangat dianjurkan karena umat muslim bisa mendapatkan pengampunan dosa-dosa kecil setahun yang lalu.
Demikian makna tahun baru Islam bagi
setiap muslim di Bulan Muharram yang Insyaalah tahun ini jatuh pada tanggal 30
Juli 2022. Selamat Tahun Baru Islam 2022 M / 1444 H.
Zulfikri, M.Ag
Wakil Ketua I
🅒mediarmrb
MENGAWALI TAHUN BARU 1444 H DENGAN KETAQWAAN KEPADA ALLAH SWT.
![]() |
| (foto : Pawai 1 Muharram Sebelum Covid 19) |
Mengawali tahun baru dan bulan baru biasanya banyak orang yang mengisinya dengan berbagai macam kegiatan. Ada yang mengadakan pengajian, ada yang mengadakan istighatsah, ada pula pang sekedar mengisi waktu dengan berbagai hal yang menurutnya bermanfaat. Namun sayangnya banyak pula yang mengisinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat khususnya para remaja atau pemuda, bahkan mereka mengisinya dengan maksiat, na'udzubillah.
Untuk menghindari agar masyarakat umum khsusunya remaja tidak melakukan banyak maksiat di awal pergantian tahun, biasanya para ta'mir masjid dan yang lainnya mengadakan pengajian, istighatsah, yasinan, tahlilan, dan berdoa bersama untuk mengisi kegiatan di tahun baru atau bulan baru tersebut. dan ternyata hal ini sudah lebih dahulu dicontohkan oleh para sahabat Nabi Shallalahu alaihi wa sallam.
Telah diriwayatkan dari beberapa jalur hadits yang para perawinya adalah tsiqah (terpercaya), bahwa para sahabat melakukan doa bersama pada Tahun Baru Hijriah, salah satu riwayatnya adalah sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Hisyam (sahabat Nabi SAW) berkata : Sesungguhnya para sahabat Nabi apabila masuk tahun baru atau bulan baru, mereka biasanya berdoa dengan doa ini :
اَللّهُمَّ اَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالْاَمْنِ وَ الْاِيْمَانِ وَ السَّلَامَةِ وَ الْاِسْلَامِ وَ رِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمنِ وَ جِوَارٍ مِنَ الشَّيْطَانِ
"Ya Allah, masukkanlah tahun baru ini kepada kami dalam keadaan tenteram & beriman, selamat dan masih beragama islam, mendapat ridha dari-Mu yang maha rahman, dan terlindung dari tipu daya setan".
(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath 6/221 No.6241, Abul Qasim Al-Baghowi dalam Mu'jam Ash-Shahabah 3/543, Abul Qasim Al-Asbihani dalam At-Targhib Wat Tarhib 2/128, dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tajridul Asma' Wal Kuna 2/33)
Sanad hadits ini dinilai hasan oleh Al-Hafizh Al-Haitsami dalam majma'uz zawaid 10/139, dan dinilai shahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah 4/255.
Oleh karena itu, disunnahkan bagi kita untuk bersama-sama mengisi tahun baru ini dengan hal-hal yang positif lagi bermanfaat, dan hendaknya kita memanjatkan doa kepada Allah pada awal tahun dan awal bulan agar kita diselamatkan dari berbagai musibah, ujian, maksiat. kemudian kita berdoa kepada Allah SWT, agar di limpahkan karunia dan ridha-Nya selalu menyertai kita dalam semoga kita menjadi hamba yang taqwa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. amin
@media.rmrb
Implementasi Khutbah Wada' Dalam kehidupan, Khutbah Idul Adha 1443 H
![]() |
| (Foto: Dr. Amri Fatmi, Lc. MA) |
Di antara poin penting khutbah Wada’ yang harus menjadi rambu-rambu kehidupan umat islam sekaligus cita-cita untuk terus diwujudkan dan diimplemetasikan dalam kehidupan baik pribadi dan bernegara adalah sebagai berikut :
Pertama : “Wahai Manusia, sesungguhnya darah kalian, harta kalian, haram diatas kalian sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian, seperti haramnya hari kalian ini dan seperti haramnya bulan kalian ini. sesungguhnya kalian akan menjumpai Tuhan kalian maka akan ditanyakan tentang perbuatan kalian dan telah kusampaikan ” ( Ibnu Hisyam, As-Sirah An-nabawiyah, 4\161)
Ajaran islam sangat menitik beratkan pada maksud penjagaan darah dan harta. Seseorang tak bertahan hidup tanpa tubuh yang berdarah lancar, dan tidak bertahan hidup sehari-hari tanpa harta yang sesuai kebutuhannya. Sebaaimana darah haram ditumpahkan secara tidak benar begitu pula harta haram beralih tangan kecuali dengan kebaikan hati dari pemiliknya. Nabi memisalkan keharaman harta dan darah seperti penghormatan para sahabat saat itu untuk hari dan bulan haji. Sebagaimana kehormatan bulan dan hari wukuf dijaga dengan baik maka harta dan darah saudara kita juga wajib dijaga dengan baik.
Tidak lupa Nabi mengingatkan bahwa setiap amalan akan kita pertanggung jawabkan di depan Allah nanti hari kiamat, apalagi masalah harta dan darah.
Kedua : siapa saja yang ada bersamanya amanah, hendaklah dia tunaikan sebagaimana telah diamanahkan padanya. (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-nabawiyah, 4\161)
Ini prinsip paling utama dalam kehidupan berhubungan dengan sesame manusia. Amanah adalah suatu kepercayaan dari orang lain terhadap kita dan kita menerima kepercayaan itu dengan sukarela yang nantinya kita akan diminta pertanggung jawaban. Kemampuan sesorang dalam menjaga amanah dan janji adalah ciri seorang muslim yang sukses sebagaimana firman Allah dalam surat al mukminun :
Artinya :
“dan mereka bagi amanah dan janji mereka sangat menjaga” (Al mukminun : 7)
Jauh dari itu amanah adalah akhlak utama seorang muslim yang langsung berhubungan dengan Iman sebagaimana sabda Nabi : ” tidak sempurna iman seseorang siapa yang tidak ada padanya sifat amanah “(H.R. Ahmad)
Ketiga : “Sesungguhnya semua perkara jahiliyah di bawah kakiku telah terbenam, semua riba jahiliyah telah dibenamkan dibawah kakiku,…. darah jahiliyah juga telah dibenamkan di bawah kakiku…semuanya telah dibenamkan” ( Shahih imam Muslim).
Penggalan khutbah Nabi ini sangat penting, bahwa semua hal yang dibanggakan oleh orang Arab masa jahiliyyah itu semua telah dikuburkan oleh Nabi dan telah dibenamkan di bawah kaki beliau. Perkara jahiliyyah seperti ashabiyah, bangga dengan dengan nasab dan ras, bangga dengan kemampuan untuk memeras dan memanfaatkan orang lain secara zalim, bangga dengan riba dalam harta, bangga dengan kemampuan untuk balas dendam, itu semua telah dibenamkan dan tidak boleh dihidupkan lagi dalam kehidupan bermasyarakat. 23 tahun Nabi telah berjuang mengahpus segala prinsip dan praktik hidup orang jahiliyyah tersebut, adakah hari ini yang masih melestarikannya?
Keempat : bertakwalah pada Allah terhadap wanita, karena kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan halalnya kemaluan mereka dengan kalimah Allah. (Shahih Imam Muslim). Selanjutnya Rsulullah menyorot khusus tentang posisi kaum wanita dan para istri. Nabi wasiatkan pada kaum lelalki untuk memberikan hak mereka dengan baik dalam kehidupan. Sesungguhnya wanita memiliki hak dan kewajiban sebagaimana juga laki-laki. Nabi melarang berbuat semena-mena dengan kaum wanita sebagaimana orang jahiliyah dulu. Kaum wanita itu selaku istri terikat dengan suaminya karena kalimah Allah dan halalnya hubungan mereka juga karena Allah. seorang suami memiliki istri sebagai amanah dari Allah. jadi dia harus menjaga ketakwaannya pada Allah dalam mengayomi dan berinteraksi dengan wanita dan istrinya. Islam betul –betul menjaga kaum wanita yang lemah supaya terhormat dalam kehidupan mereka.
Kelima : sungguh telah aku tinggalkan pedoman yang kalau kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat, perkara yang jelas, yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya. (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-nabawiyah, 4\161). Inilah pernyataan penting dari Nabi SAW, bahwa umat islam memilki referensi jelas dalam hidup mereka. Mereka bersama-sama memegang rujukan utama sebagai petunjuk hidup yaitu al-quran dan Sunnah Nabi SAW. Bagaimanapun perbedaan yang terjadi mereka akan tetap menghormati dan akan merujuk kepada rujukan bersama. Inilah yang akan menjaga keutuhan umat dan kelestarian islam sepanjang zaman.
Keenam : “wahai manusia, dengarkanlah perkataanku dan pikirkanlah, kalian mengetahui bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dan seluruh muslimin adalah bersaudara, maka tidak halal bagi seorang muslim dari sudaranya kecuali yang diberikan kepadanya secara kebaikan hatinya, maka janganlah sekali-kali kalian menzalimi diri kalian sendiri…” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-nabawiyah, 4\161)
Prinsip hubungan antara sesame muslim adalah persaudaraan. ini dasar penting islam yang berhasil diwujudkan Nabi dalam hidup beliau. Semua dasar hubungan ras, kasta, nasab, keluarga lebur didalam persaudaraan se-iman. Maka apa saja usaha atas dasar semua dalih akan tertolak apabila merongrong persaudaraan sesame iman.
Ketujuh : Wahai manusia, dengarlah dan taatlah walau yang memerintah kalian budak Habsyi pesek hidungnya selama ia menegakkan Kitab Allah. (Ibnu Sa’ad, Thabaqaat al Kubra,2\262). Ini adalah prinsip dasar hubungan antara pemimpin dan rakyat. Prinsip patuh dan taat terhadap pemimpin siapa saja dia selama pemimpin tersebut menjalankan pemerintahannya sesuai dengan kitab Allah. apabila ia menyimpang dari kitab Allah dan sunnah RasulNya, maka tidak ada patuh dan taat dari rakyat terhadap pemimpin siapapun dia.
Dengan ini Rasulullah menetapkan prinsip penting dalam kehidupan bernegara pentingnya kepatuhan rakyat pada pemimpin dan pentingnya pemimpin mejalankan aturan Allah dan RasulNya dalam kehidupan bernegara. Atas dasar prinsip ini islam tidak memandang adanya prinsisp kekebalan hukum bagi kelompok elite tertentu atau pribadi tertentu, semua mereka sama di depan qanun dan hukum. ( Al-Buthy, Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, 330)
Setelah khutbah Arafah, Allah turunkan ayat ke-3 dari surat al Maidah :
“…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”
Misi Nabi SAW telah selesai, dan islam dengan ajarannya sudah lengkap dan sempurna disampaikan Nabi kepada manusia, Allah tealh ridha, para sahabat di padang Arafah menjadi saksi atas peristiwa bersejarah tersebut.
Dengan demikian kita dapat memahami bahwa kesempurnaan ajaran islam itu bukan dinilai pada banyaknya orang menganut ajaran islam, tapi pada kemampuan kita umat islam dalam menjalankan ajaran islam secara baik walau jumlah kita masih terbatas atau sedikit. Yang penting adalah Kualitas ajaran islam yang dijalankan umatnya bukan pada kuantitas mereka.
sumber : gema baiturrahman
media rmrb:
instagram : @rmrb.aceh
〼mediarmrb
Share
Unggulan
Kesempatan Emas Untuk Pemuda Yang Ingin Belajar Jadi Imam dan Penceramah. Yuk Daftar!
Banda Aceh - Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh mengadakan pelatihan Imam dan Penceramah menjelang bulan Ramadhan, ini m...






