![]() |
| (Foto: Dr. Amri Fatmi, Lc. MA) |
Di antara poin penting khutbah Wada’ yang harus menjadi rambu-rambu kehidupan umat islam sekaligus cita-cita untuk terus diwujudkan dan diimplemetasikan dalam kehidupan baik pribadi dan bernegara adalah sebagai berikut :
Pertama : “Wahai Manusia, sesungguhnya darah kalian, harta kalian, haram diatas kalian sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian, seperti haramnya hari kalian ini dan seperti haramnya bulan kalian ini. sesungguhnya kalian akan menjumpai Tuhan kalian maka akan ditanyakan tentang perbuatan kalian dan telah kusampaikan ” ( Ibnu Hisyam, As-Sirah An-nabawiyah, 4\161)
Ajaran islam sangat menitik beratkan pada maksud penjagaan darah dan harta. Seseorang tak bertahan hidup tanpa tubuh yang berdarah lancar, dan tidak bertahan hidup sehari-hari tanpa harta yang sesuai kebutuhannya. Sebaaimana darah haram ditumpahkan secara tidak benar begitu pula harta haram beralih tangan kecuali dengan kebaikan hati dari pemiliknya. Nabi memisalkan keharaman harta dan darah seperti penghormatan para sahabat saat itu untuk hari dan bulan haji. Sebagaimana kehormatan bulan dan hari wukuf dijaga dengan baik maka harta dan darah saudara kita juga wajib dijaga dengan baik.
Tidak lupa Nabi mengingatkan bahwa setiap amalan akan kita pertanggung jawabkan di depan Allah nanti hari kiamat, apalagi masalah harta dan darah.
Kedua : siapa saja yang ada bersamanya amanah, hendaklah dia tunaikan sebagaimana telah diamanahkan padanya. (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-nabawiyah, 4\161)
Ini prinsip paling utama dalam kehidupan berhubungan dengan sesame manusia. Amanah adalah suatu kepercayaan dari orang lain terhadap kita dan kita menerima kepercayaan itu dengan sukarela yang nantinya kita akan diminta pertanggung jawaban. Kemampuan sesorang dalam menjaga amanah dan janji adalah ciri seorang muslim yang sukses sebagaimana firman Allah dalam surat al mukminun :
Artinya :
“dan mereka bagi amanah dan janji mereka sangat menjaga” (Al mukminun : 7)
Jauh dari itu amanah adalah akhlak utama seorang muslim yang langsung berhubungan dengan Iman sebagaimana sabda Nabi : ” tidak sempurna iman seseorang siapa yang tidak ada padanya sifat amanah “(H.R. Ahmad)
Ketiga : “Sesungguhnya semua perkara jahiliyah di bawah kakiku telah terbenam, semua riba jahiliyah telah dibenamkan dibawah kakiku,…. darah jahiliyah juga telah dibenamkan di bawah kakiku…semuanya telah dibenamkan” ( Shahih imam Muslim).
Penggalan khutbah Nabi ini sangat penting, bahwa semua hal yang dibanggakan oleh orang Arab masa jahiliyyah itu semua telah dikuburkan oleh Nabi dan telah dibenamkan di bawah kaki beliau. Perkara jahiliyyah seperti ashabiyah, bangga dengan dengan nasab dan ras, bangga dengan kemampuan untuk memeras dan memanfaatkan orang lain secara zalim, bangga dengan riba dalam harta, bangga dengan kemampuan untuk balas dendam, itu semua telah dibenamkan dan tidak boleh dihidupkan lagi dalam kehidupan bermasyarakat. 23 tahun Nabi telah berjuang mengahpus segala prinsip dan praktik hidup orang jahiliyyah tersebut, adakah hari ini yang masih melestarikannya?
Keempat : bertakwalah pada Allah terhadap wanita, karena kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan halalnya kemaluan mereka dengan kalimah Allah. (Shahih Imam Muslim). Selanjutnya Rsulullah menyorot khusus tentang posisi kaum wanita dan para istri. Nabi wasiatkan pada kaum lelalki untuk memberikan hak mereka dengan baik dalam kehidupan. Sesungguhnya wanita memiliki hak dan kewajiban sebagaimana juga laki-laki. Nabi melarang berbuat semena-mena dengan kaum wanita sebagaimana orang jahiliyah dulu. Kaum wanita itu selaku istri terikat dengan suaminya karena kalimah Allah dan halalnya hubungan mereka juga karena Allah. seorang suami memiliki istri sebagai amanah dari Allah. jadi dia harus menjaga ketakwaannya pada Allah dalam mengayomi dan berinteraksi dengan wanita dan istrinya. Islam betul –betul menjaga kaum wanita yang lemah supaya terhormat dalam kehidupan mereka.
Kelima : sungguh telah aku tinggalkan pedoman yang kalau kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat, perkara yang jelas, yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya. (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-nabawiyah, 4\161). Inilah pernyataan penting dari Nabi SAW, bahwa umat islam memilki referensi jelas dalam hidup mereka. Mereka bersama-sama memegang rujukan utama sebagai petunjuk hidup yaitu al-quran dan Sunnah Nabi SAW. Bagaimanapun perbedaan yang terjadi mereka akan tetap menghormati dan akan merujuk kepada rujukan bersama. Inilah yang akan menjaga keutuhan umat dan kelestarian islam sepanjang zaman.
Keenam : “wahai manusia, dengarkanlah perkataanku dan pikirkanlah, kalian mengetahui bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dan seluruh muslimin adalah bersaudara, maka tidak halal bagi seorang muslim dari sudaranya kecuali yang diberikan kepadanya secara kebaikan hatinya, maka janganlah sekali-kali kalian menzalimi diri kalian sendiri…” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-nabawiyah, 4\161)
Prinsip hubungan antara sesame muslim adalah persaudaraan. ini dasar penting islam yang berhasil diwujudkan Nabi dalam hidup beliau. Semua dasar hubungan ras, kasta, nasab, keluarga lebur didalam persaudaraan se-iman. Maka apa saja usaha atas dasar semua dalih akan tertolak apabila merongrong persaudaraan sesame iman.
Ketujuh : Wahai manusia, dengarlah dan taatlah walau yang memerintah kalian budak Habsyi pesek hidungnya selama ia menegakkan Kitab Allah. (Ibnu Sa’ad, Thabaqaat al Kubra,2\262). Ini adalah prinsip dasar hubungan antara pemimpin dan rakyat. Prinsip patuh dan taat terhadap pemimpin siapa saja dia selama pemimpin tersebut menjalankan pemerintahannya sesuai dengan kitab Allah. apabila ia menyimpang dari kitab Allah dan sunnah RasulNya, maka tidak ada patuh dan taat dari rakyat terhadap pemimpin siapapun dia.
Dengan ini Rasulullah menetapkan prinsip penting dalam kehidupan bernegara pentingnya kepatuhan rakyat pada pemimpin dan pentingnya pemimpin mejalankan aturan Allah dan RasulNya dalam kehidupan bernegara. Atas dasar prinsip ini islam tidak memandang adanya prinsisp kekebalan hukum bagi kelompok elite tertentu atau pribadi tertentu, semua mereka sama di depan qanun dan hukum. ( Al-Buthy, Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, 330)
Setelah khutbah Arafah, Allah turunkan ayat ke-3 dari surat al Maidah :
“…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”
Misi Nabi SAW telah selesai, dan islam dengan ajarannya sudah lengkap dan sempurna disampaikan Nabi kepada manusia, Allah tealh ridha, para sahabat di padang Arafah menjadi saksi atas peristiwa bersejarah tersebut.
Dengan demikian kita dapat memahami bahwa kesempurnaan ajaran islam itu bukan dinilai pada banyaknya orang menganut ajaran islam, tapi pada kemampuan kita umat islam dalam menjalankan ajaran islam secara baik walau jumlah kita masih terbatas atau sedikit. Yang penting adalah Kualitas ajaran islam yang dijalankan umatnya bukan pada kuantitas mereka.
sumber : gema baiturrahman
media rmrb:
instagram : @rmrb.aceh
〼mediarmrb
