Keutamaan Ahlussunnah Waljama'ah
Oleh K.H Muhammad Idrus Ramli
Madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi merupakan representasi Ahlussunnah Wal-Jamaah dan al-firqah al-najiyah. Sudah barang tentu, madzhab tersebut memiliki sekian banyak keutamaan yang diisyaratkan dalam al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi ﷺ. Di antara dalil-dalil yang menjelaskan keutamaan madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi, adalah sebagai berikut :
Dalil Pertama
Allah SWT. berfirman dalam al-Qur'an :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِبِقَوْميُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ
Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya". (QS. al-Ma'idah : 54).
Ayat tersebut memberikan penjelasan, bahwa apabila orang-orang yang beriman menyatakan murtad atau keluar dari Islam, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum vang Allah cintai dan mencintai Allah. Pertanyaannya, siapa yang dimaksud dengan kaum yang Allah cintai dan mencintai Allah ? Dalam hadits shahih Rasulullah ﷺ menjelaskan :
عَنْ عِيَاضْ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ : لَمَّانَزَلَتْ (فَسَوْفَ يَأتِي اللّٰهُ بِقَوْمٍ ويحبونه ... قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ : هُمْ قَوْمُ هَذَا، وَأَشَارَإِلَى أَبِيْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ.
Artinya : "lyadh al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu berkata : Ketika ayat : Allah SWT. akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya., maka Rasulullah ﷺ bersabda sambil menunjuk kepada Abu Musa al-Asy'ari : Mereka adalah kaumnya laki-laki ini".
Hadits shahih riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak [3177] dan menilainya shahih sesuai persyaratan Muslim serta disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi.
Hadits di atas memberikan penjelasan, bahwa kaum Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu adalah kaum yang dicintai Allah dan juga kaum yang mencintai Allah. Hal ini berarti mengikutkan pada kesimpulan bahwa pengikut madzhab al-Asy'ari adalah kaum yang dicintai Allah dan mereka pun juga mencintai-Nya. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa setiap terjadi penisbatan kata kaum kepada seorang nabi di dalam al-Qur'an, maka yang dimaksudkan adalah pengikut nabi tersebut. Dan sudah barang tentu, Abu al-Hasan al-Asy'ari dan pengikut madzhabnya termasuk kaum Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, sehingga secara tersirat masuk dalam konteks ayat di atas. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam al-Qurthubi, ahli tafsir terkemuka dalam tafsirnya :
قَالَ الْقُشَيْرِيُّ : فَأَتْبَاعُ أَبِي الْحَسَنِ مِنْ قَوْمِهِ، لأَنَّ كُلَّ مَوْضِعٍ أُضِيْفَ فِيْهِ قَوْمٌ إِلَى نَبِيٍّ أرِيْدَبِهِ الْاَتْبَاعُ.
Artinya : "Al-Qusyairi berkata : Pengikut madzhab Abi al-Hasan al-Asy'ari termasuk kaum Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, karena setiap terjadi penisbahan kata kaum terhadap seorang nabi di dalam al-Qur'an, maka yang dimaksudkan adalah pengikutnya".
[Al-Imam al-Qurthubi, al-Jami' li-Ahkam al-Qur'an, juz 6, hlm. 220.]
Pernyataan al-Qusyairi di atas senada dengan pernyataan al-Imam al-Baihaqi dalam al-Risalah al-Asy'ariyyah, yang dikutip oleh al-Hafizh lbnu Asakir al-Dimasyqi dalam Tabyin Kidzb al-Muftari, ketika mengomentari hadits yang sama. Al-Baihaqi menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ, tentang kaum Abu Musa al-Asy'ari tersebut ada kaitannya dengan al-lmam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan pengikutnya, mayoritas umat Islam.
Dalil Kedua
Hadits sahabat Bisyr al-Khats'ami Radhiyallahu 'anhu,
عَنْ بِشْرٍالْخَثْعَمِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُفَلَنِعْمَ الْأَمِيرُأَمِيرُهَاوَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ.
Artinya : "Dari Bisyr al-Khats'ami Radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda : Kelak umatku akan benar-benar menaklukkan kota Konstantinopel. Maka sebaik-baik pemimpin, adalah pemimpin penaklukan itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan penakluk tersebut".
Hadits shahih riwayat Ahmad [18189], al-Thabarani dalam al-Mu'jam al-Kabir [1200], Abu Nu'aim dalam Ma'rifat al-Shahabah hlm 1101 dan al-Hakim dalam al-Mustadrak yang juga menilainya shahih. Al-Haitsami berkata dalam Majma' al-Zawa'id juz 6 hlm 219 : "Para perawi hadits ini dapat dipercaya".
Dalam hadits di atas, Rasulullah ﷺ memuji orang-orang yang menaklukkan Konstantinopel, sebagai sebaik-baik pasukan dan sebaik-baik panglima. Ternyata Konstantinopel ditaklukkan pada Selasa 20 Jumadal Ula 857 H/29 Mei 1453 M oleh Sultan Muhammad al-Fatih bin Sultan Murad Khan al-'Utsmani. Beliau bersama pasukannya, termasuk pengikut setia Ahlussunnah Wal-Jamaah, mazhab al-Asy'ari, mencintai kaum shufi, bertawasul dengan para nabi dan para wali, mengikuti thariqat shufi dengan pembimbing spiritual (mursyid thariqat) seorang ulama shufi terkemuka pada saat itu, yaitu Syaikh Aqa Syamsuddin. Mereka juga tekun merayakan maulid Nabi ﷺ, dan tradisi-tradisi shufi lainnya. Walid al-Sa'id, Tabyin Dhalalat al-Albani Syaikh al-Wahhabiyyah al-Mutamahdits, hlm. 85. Berarti hadits tersebut juga memuji kepada pengikut madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi, karena ajarannya sama dengan yang diikuti oleh Sultan Muhammad al-Fatih.
Dalil Ketiga
Hadits sahabat Imran bin Husain Radhiyallahu 'anhu :
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ إِنِّي عِنْدَالنَّبِيِّ ﷺ إِذْجَاءَهُ قَوْمٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُواالبُشْرَى يَابَنِي تَمِيمٍ قَالُوابَشَّرْتَنَافَأَعْطِنَافَدَخَلَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَاأَهْلَ الْيَمَنِ إِذْلَمْ يَقْبَلهَابَنُوتَمِيمٍ قَالُواقَبِلْنَاجِئْنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّينِ وَلِنَسْأَلَكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَاالْأَمْرِمَاكَانَ قَالَ كَانَ اللّٰهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌقَبْلَهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِكُلَّ شَيْءٍ.
Artinya : "Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu 'anhu, berkata : Aku bersama Nabi ﷺ, tiba-tiba datanglah kaum dari golongan Bani Tamim (penduduk Najd). Nabi ﷺ berkata kepada mereka : Terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim!. Mereka menjawab : Engkau telah memberi kami kabar gembira kepada kami, oleh karena itu berilah kami [harta benda]!. Lalu datanglah orang-orang dari penduduk Yaman. Nabi ﷺ berkata kepada mereka : Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena Bani Tamim tidak mau menerimanya!. Penduduk Yaman menjawab : Kami menerima kabar gembira itu wahai Rasulullah dengan senang hati. Kami datang kemari untuk mempelajari ilmu agama dan untuk menanyakan perihal permulaan apa yang ada di dunia ini!. Nabi ﷺ menjawab : Allah itu ada, pada saat sesuatu apa pun belum ada. Arasynya Allah itu ada di atas air. Kemudian Allah menciptakan langit dan bumi dan mencatat segala sesuatu dalam lauh mahfuzh".
Hadits shahih riwayat al-Bukhari [6868].
Hadits di atas memberikan gambaran, tentang perbedaan karakter penduduk Yaman dengan penduduk Bani Tamim yang tinggal di Najd. Penduduk Yaman yang hatinya sangat lembut dan sangat halus, karakter mereka mudah menerima dan mematuhi kebenaran serta mementingkan ilmu agama daripada meminta harta benda atau kekayaan duniawi. Hal tersebut berbeda dengan kaum Bani Tamim yang tinggal di Najd, yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu agama, tetapi lebih mementingkan harta benda dan meminta kekayaan duniawi kepada Nabi ﷺ.
Penduduk Yaman memiliki kemauan yang keras untuk mengetahui dan menanyakan persoalan penting dalam pandangan agama, yaitu seputar keesaan Allah yang bersifat qadim (tidak ada permulaannya) dan eksistensi alam yang bersifat baru (huduts) yang merupakan materi penting dalam pembahasan ilmu tauhid. Berdasarkan hadits tersebut, para ulama ahli hadits seperti al-Imam al-Baihaqi dan lain-lain berpandangan, bahwa karakter al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari yang gemar mendalami ilmu akidah dan mengantarnya menjadi pemimpin Ahlussunnah Wal-Jamaah dalam bidang akidah, merupakan karakter bawaan dari leluhurnya yang memiliki cita-cita yang luhur untuk menguasai ilmu pengetahuan dan mendalami persoalan akidah yang sangat penting dengan bertanya secara langsung kepada Nabi ﷺ.
Dalam hal ini al-Imam al-Baihaqi rahimahullah berkata :
قَالَ أَبُوْبَكْرٍالبَيْهَقِيُّ : وَفِيْ سَؤَالِهِمْ دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ الْكَلَامَ فِيْ عِلمِ الْأُصُوْلِ وَحَدَثِ الْعَالَمِ مِيْرَثٌ الأَوْلادِهِمْ عَنْ أَجْدَادِهِمْ.
Artinya : "Al-Imam Abu Bakar al-Baihaqi berkata : Pertanyaan penduduk Yaman kepada Nabi ﷺ tersebut, menjadi bukti bahwa kajian tentang ilmu akidah dan barunya alam telah menjadi warisan keluarga al-Asy'ari dari leluhur mereka secara turun temurun".
[Al-Hafizh Ibn Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, (Damaskus: Percetakan al-Taufiq, 1347 H), hlm. 66.]
Berdasarkan keterangan di atas, tidak aneh apabila di kemudian hari, dari kalangan suku al-Asy'ari lahir seorang ulama yang menjadi pemimpin Ahlussunnah Wal-Jamaah dalam memahami dan mempertahankan akidah yang diajarkan oleh Nabi ﷺ dan sahabatnya, yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari.
