![]() |
| (doc: indah putri sanura) |
Jabatan kini telah mengobsesi kehidupan banyak orang. Menurut pemahaman merekatidak lengkap rasanya kalau tidak pernah menjadi orang penting, dihormati dan dihargai dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kini kepemimpinan dipandang sebagai sebuah "aset", karena ia baik langsung maupun tidak langsung berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi presiden, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan dan sebagainya merupakan impian banyak orang.
Berbeda dengan seorang pemimpin yang bersahaja, bukan sembarang pejabat sejarah mencatat nya sebagai Gubernur teladan sepanjang zaman dari tanah tandus arabia. Hingga ketakwaannya membuat Umar menangis, dialah Said bin Amir Al Jumahi
Kala itu, pada masa pemerintahan Umar bin Khathab, Said bin Amir diangkat menjadi Gubernur Kota Homs,salah satu kota di Syam.
Namun Said memohon agar Umar mencoret namanya. Umar marah, dan menawar menetapkan Gaji untuknya. Said menjawab, “Apa yang aku lakukan dengan gaji itu wahai Amirul Mukminin? Pemberian dari baitul maal melebihi kebutuhanku.” Said pun berangkat ke Homsh menunaikan tugasnya
Sungguh Jawaban yang tidak di sangka keluar dari mulut Said bin Amir. Dia tidak mengiginkan Pengabdian nya kepada Masyarakat dinilai dengan materi. Apakah karna beliau orang kaya ?, tentu bukan, ia hanyalah insan yang sederhana dan mengabdikan hidupnya melayani warganya.
Ketika Amirul Mukminin Meminta orang kepercayaannya menuliskan nama-nama orang miskin di kota Horms untuk di berikan bantuan, nama Said Bin Amir terdapat di dalam daftar tersebut. Umar Terkaget. “Siapa Said Bin Amir ? “ tanya Umar. Mereka Menjawab “ Dia Gubernur kami“, lantas Umar menegaskan, “Gubernur kalian miskin?”.
Mereka menjawab, “Benar di rumahnya tidak pernah dinyalakan api dalam waktu yang cukup lama.” Maka Umar menangis hingga air matanya membasahi janggutnya, kemudia dia mengambil seribu dinar dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong. Umar berkata, “Sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan harta ini agar kamu bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu.
Delegasi mendatangi rumah Said dengan menyerahkan titipan Umar bin Khatthab. Said melihatnya lalu menyingkirkannya seraya berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Seolah-olah Said sedang ditimpa musibah besar atau perkara berat.
“Dunia datang kepadaku untuk merusak akhiratku, sebuat fitnah telah menerpa rumahku.” Ucapnya. Maka Said mengambil dinar itu dan membaginya kepada kaum muslimin yang miskin.
Said bin Amir Al jumahi hidup bagaikan contoh pemimpin yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan PahalaNya atas segala keinginan hawa nafsunya. Dia tidak menggunakan jabatannya sebagai wadah untuk menampung kemewahan. Dapatkah kita temukan di zaman sekarang sosok pemimpin seperti Said bin Amir ?
Kepemimpinan adalah amanah Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat.
Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.
Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai pemimpin. Terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidiq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, Lawannya adalah khianat. (3) Fathanah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di akhir tahun 2022 ini banyak pejabat khususnya di daerah di provinsi aceh sudah habis masa pengabdianya, dan kita semua bisa menilai bagaimana kinerja yang sudah mereka lakukan selama menjalanlan tugas memimpin negeri ini. Kita doakan semoga apa yang di lakukan menjadi amal ibadah dan di ampunkan segala kesilapannya. Untuk kedepan siapapun yang menggantikan bisa mencontohkan keteladan dari seorang said bin amir al jumahi yang menjadi sosok pemimpin yang sangat di rindukan apalagi di masa sekarang ini.
Sumber : Kisah Teladan Para Sahabat Nabi karya Ustadz Zainuddin Yusuf
Penulis : Indah Putri Sanura (Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh 2016)
