BENCANA DALAM PRESPEKTIF AL QUR'AN


Bencana dalam prespektif Al Qur'an

(Oleh : Firdaus Fadhli*)

Sudah jatuh, tertimpa tangga, ungkapan ini adalah pernyataan kiasan yang sarat dengan makna filosofi.Dalam konteks kebencanaan yang dihadapi oleh ummat Islam di Indonesia selayaknya kita harus melakukan muhasabah, ada apa dibalik musibah yang terus melanda Bangsa Indonesia.

Berbagai musibah besar terus melanda Bangsa Indonesia baik dalam bentuk krisis ekonomi, banjir bandang, lonsor, kemiskinan, kegaduhan politik dan musibah kriminal. Yang saban hari kita lihat di televisi serta kita baca dimedia massa dan media mainstream. Berbagai wujud bencana yang kita lihat termasuk bencana aqidah (ajaran sesat), akhlak (moral), dan pemerintah tentunya.

Ada 2 faktor yang menyebabkan mengapa Allah terus menerus menimpakan bala bencana kepada kita, seperti yang saya kutip dari tausiyah Habib Novel Al-Atos, Pertama: karena banyaknya kita punya dosa akan tetapi tidak kunjung memohon ampunan, bertaubat kepada Allah. Seperti dalam firmanNya.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa musibah yang menimpa kalian tidak lain adalah disebabkan karena dosa yang kalian dahulu perbuat. Dan Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian tersebut. Dia bukan hanya tidak menyiksa kalian, namun Allah langsung memaafkan dosa yang kalian perbua

Kita sering sekali mengabaikan dosa-dosa yang telah kita perbuat sehingga tidak jarang kita menggangap dosa tersebut  merupakan hal sepele Karena dosa yang kecil. Dari sisi ini munculah pemikiran bahwa kita ini suci. Ketika kita merasakan hal tersebut munculah gagasan untuk tidak bertaubat Karena kita telah menganggap diri kita ini tanpa dosa sehingga sulit untuk bertaubat padahal sebenaranya perbuatan kita tersebut dilarang oleh Allah.

Kedua; bencana alam yang terjadi secara kontinyu ini disebabkan Karena banyak dari  kita telah melupakan para ulama, tidak menghadiri majelis ilmu yang mereka selenggarakan, maupun mengabaikan pendapat dari para ulama yang mana pendapat tersebut merupakan pendapat yang baik untuk kita. Dewasa ini. Orang orang hanya mendatangi ulama hanya untuk kepentingan pribadi kemudian Naudzubillah min dzalik, membenci para ulama .Inilah yang mengundang murka Allah SWT.Allah akan menurunkan 3 bala bencana kepada mereka:

Pertama, Allah akan memberikan mereka pemimpin yang dzhalim. Yaitu pemimpin yang tidak bias dijadikan panutan apalagi memberi rasa aman yang ada hanya kontroversi, hanya merusak bangsa. Kedua, Allah akan mencabut keberkahan hidup para manusia. Baik dari segi, umur, ilmu, rezeki.Ketiga; Allah akan mencabut nyawa dalam keadaan suul khatimah.

Maka dari itu kita sebagai manusia tentunya mulai saat ini cepat atau lambat  berhijrah menjadi yang lebih baik, menjadi orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW dan ingat bencana apapun itu tidak akan sirna sehingga kita selalu bertaubat ditambah dengan menyesali perbuatan yang pernah kita lakukan sekaligus menjadi pendengar dan mengikuti ulama sebagai panutan kita agar tidak tersesat dan dapat terhindar dari  azab Allah yang sangat pedih. Wallahu`alam bi shawab

 *Penulis adalah Kader Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Share

Unggulan

Kesempatan Emas Untuk Pemuda Yang Ingin Belajar Jadi Imam dan Penceramah. Yuk Daftar!

Banda Aceh - Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh mengadakan pelatihan Imam dan Penceramah menjelang bulan Ramadhan, ini m...