![]() |
| (Penulis : Yunus Al Ikhram) |
Aceh daerah termiskin, begitulah yang digaungkan baru-baru ini. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis bahwa Aceh sebagai daerah termiskin di Sumatera. Alasan ini di karenakan angka pengangguran di Aceh mencapai 810 ribu orang dan pengalokasian dana desa dinilai kurang tepat.
Masih menjadi pertanyaan dalam benak saya, mengapa berita untuk Aceh selalu di citrakan buruk? Mari kita melihat dari masa lalu. Aceh dicitrakan buruk dengan hukuman cambuknya yang dilakukan di depan umum, padahal tata cara pelaksanaan hukuman cambuk ini sudah sesuai dengan ketentuan qanun dan syariat Islam. Bukankah Aceh merupakan daerah yang memiliki otonomi khusus (otsus) yang boleh mengatur wilayahnya sendiri.
Tak lama berselang setelah itu Aceh kembali digemparkan dengan framing yang buruk yaitu dengan rendahnya tingkat toleransi se-Indonesia. Saya tidak mengerti bagaimana metode survei ini dilakukan sehingga bisa menghasilkan data yang sedemikian rupa, sedangkan Aceh dalam beberapa tahun terakhir ini tidak terjadi pertikaian ummat beragama. Yang terjadi justru sebaliknya, ketika pemuka dari berbagai agama di Aceh duduk dan bertemu di kedai kopi salah seorang pendeta Kristen drh. Idaman Sembiring memprotes hasil survei Kemenang 2019 dengan mengatakan “Berkali-kali kita sampaikan Aceh itu sangat toleran tapi diabaikan”
Selanjutnya yang diberitakan buruk untuk Aceh selanjutnya adalah Aceh sebagai provinsi termiskin di Pulau Sumatera, saya harus bertanya pada pembuat survey, apakah hanya karena dari satu alasan kita bisa mengklaim hal tersebut? Menurut saya tidak, dari perspektif saya sebagai mahasiswa sekaligus aktivis muda Aceh sangatlah tidak mungkin Aceh termasuk daerah termiskin di Pulau Sumatera karena semiskin-miskinnya Aceh saya belum pernah mendapati orang Aceh ada yang tinggal di bawah jembatan, kekayaan rakyat Aceh bukan hanya dilihat dari bentuk uang dan pekerjaan saja karena banyak masyarakat di pedesaan masih memiliki kekayaan ladang, sawah, perkebunan dan hewan
“Segasien-gasien ureung Aceh manteng jeut duek di kede kupi dan manteng jeut jep kupi (semiskin-miskin orang Aceh masih bisa duduk dan minum kopi)”. Saya rasa pembuat survei yang mengatakan Aceh daerah termiskin adalah tidak lebih dari sekadar proyek dan untuk mendapatkan uang semata, apalagi tujuannya kalau bukan untuk mengisi perut yang kosong, dan untuk Aceh selalu dicitrakan yang buruk.
Salah seorang teman saya di Pulau Jawa pernah mengatakan jika orang orang Aceh adalah orang kaya, ini dikarenakan setiap kenaikan harga BBM maupun listrik daerah Aceh tidak pernah melakukan demo, alasan ini cukup kuat dan cukup logis. Dan orang orang Aceh yang percaya bahwa Aceh adalah daerah termiskin itu hanya orang yang buta akan kebenaran dan pengetahuan alias tidak bisa melihat keadaan sekitar.
Saya sangat tidak setuju dengan pendapat Aceh sebagai daerah termiskin di Sumatera. Di sisi lain saya memang mengakui bahwa pemuda Aceh malas dan kurangnya kreatifitas dalam bekerja, minat untuk berbisnis dalam masyarakat Aceh juga sangat kurang. Tetapi cara seperti ini dapat lakukan oleh pemerintah yaitu dengan menyediakan tempat untuk anak muda Aceh untuk berlatih skill mereka dan mendukung dalam bidang yang di inginkannya
Terkadang berita tentang Aceh selalu saja miring baik itu dari segi Ekonomi, pendidikan, budaya, sosial, dan politik sampai-sampai turis dan para pelancong enggan memilih Aceh sebagai objek wisata.
Apakah sekarang zamannya pembulian ke daerah-daerah muslim atau ke daerah yang rakyatnya bermayoritaskan muslim.
Penulis : Yunus Al Ikhram (Sekretaris 1 RMRB Periode 2021-2022)
