Kesempatan Emas Untuk Pemuda Yang Ingin Belajar Jadi Imam dan Penceramah. Yuk Daftar!
🅒mediarmrb
![]() |
| (Foto : Proses Penyerahan Bantuan Dayah Raudhatul Muarrif Neuheun) |
Neuheun, Aceh - Bapak Kombes dokter HERY WIJATMOKO Polda Metro Jakarta (mantan Kabid Dokkes Polda Aceh) memberikan bantuan sembako untuk dayah atau pondok pesantren di aceh diantaranya Dayah Istiqamatuddin Raudhatul Mu'arrif Desa Neuheun Aceh Besar. (Sabtu 21/1/2023)
![]() |
| (Foto : Serah terima bantuan (kiri Abi junaidi, kanan Pak Rosdianyah) |
Bantuan tersebut di serahkan melalui Anggota Polda Aceh Rosdianyah, SE diterima langsung oleh Pimpinan Dayah Abi Tgk. Junaidi Ilyas serta di dampingi Santri dan sekretaris Dayah Muslim Asyek. S. Pd. Bantuan yg sama juga di salurkan untuk Dayah BABUS SA'ADAH TGK.SYIH MAHA RAJA GURAH Kec Peukan Bada Kab.Aceh Besar. tegas rosdianyah
![]() |
| (foto : serah terima bantuan dayah babus sa'adah) |
![]() |
| (Abi Junaidi (kiri) & Rosdianyah, SE (kanan) |
![]() |
| (foto : pembangunan tempat wudhu santriwati) |
![]() |
| (foto : pembangunan tempat wudhu') |
![]() |
| (Foto : Zikir & Doa Memperingati Stunami di masjid Syuhada neuheun) |
RMRB Aceh - Himpunan Santri Neuheun (HISAN) bersama dengan Remaja Masjid Gampong Neuheun dan masyarakat Gampong Neuheun memperingati 18 Tahun Tsunami Aceh (26 Desember 2004 – 26 Desember 2022) di Masjid Syuhada Gampong Neuheun Kecamatan Masjid Raya Aceh Besar, Senin 26 Desember 2022 Mulai Pukul 08.15 WIB. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan dari program-program kegiatan HISAN dan Remaja Masjid Gampong Neuheun.
Adapun rangkaian acara yang dilaksanakan pada peringatan 18 Tahun musibah Tsunami tersebut yakni dimulai dengan Shalat Dhuha berjama’ah kemudian dilanjutkan dengan Do’a Bersama dan Tausiyah Agama yang disampaikan oleh Tgk. Alaidin bin Tgk. Zainun yang merupakan Putra Neuheun Alumni dari Dayah Ulee Titi Aceh Besar.
HISAN (Himpunan Santri Neuheun) yang dipimpin oleh Tgk. Yusnaidi Bin Ilyas (Alumni Dayah Istiqamatuddin Darul Mu’arrif Lam Ateuk) mengatakan kegiatan peringatan ini harus selalu dilaksanakan setiap tahunnya, agar kita sebagai masyarakat selalu mengenang dan berdo’a kepada kaum muslimin pada umumnya dan kepada korban musibah tsunami khususnya. Apalagi Gampong Neuheun merupakan salah satu gampong yang juga merasakan musibah tsunami pada 26 Desember 2004 lalu.
![]() |
| (Jamaah perempuan) |
Setelah do’a bersama, acara dilanjutkan dengan Tausiyah agama yang disampaikan oleh Tgk. Alaidin bin Tgk. Zainun, dalam Tausiyahnya, beliau menyampaikan ceramah dengan judul “Jadikan Tsunami sebagai Intropeksi Diri”. Tsunami yang telah kita lalui pada Tahun 2004 silam harus kita jadikan bahan evaluasi kita dalam mengintropeksi diri, dan kita sebagai umat manusia yang masih tinggal di dunia selalu memperbaiki diri dalam menjalani amar makruf nahi Munkar sebagaimana dalam satu riwayat Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda “man ra’a minkumul munkaran falyughayyirhu bi yaddihi, fa in lam yastati’ fa bi lisanih, fa in lam yastati’ fa bi qalbih wahuwa adh'aful iman : barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran, hendaklah ia merubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah iman yang paling lemah” ( HR. Muslim )
kehidupan yang singkat ini untuk menghadapi hari esok di akhirat. Ujar Tgk, Alaidin dalam ceramahnya.
©️mediarmrb
| (Foto : Kajian Peuglah Punca di Hotel Kyriad) |
Pada tanggal 7 Maret 1987, gelar Profesor didapatinya dari institut ilmu Al-Qur'an. Beliau berkarakter lembut santun, demokratis tidak pernah paksa kehendak kepada siapapun, beliau juga sangat rajin membaca serta sangat menikmatinya. Beliau lahir dari keluarga ulama dan pengawal agama masyarakat Aceh. Ayahnya bernama Syekh Haji Muhammad Waly al-Khalidy dan ibunya Ummi Padang Hajjah Rasimah yang merupakan cucu dari Syekh Khatib Ali murid dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Sebelum baligh Abuya Muhibbudin Waly belajar dan mendalami ilmu keislaman langsung dari ayahnya yang juga seorang ulama terpandang, dengan para teman seperguruannya yang lebih tua darinya seperti Abu Tanoh Merah, Abu Abdul Aziz Samalanga, Abu Keumala, dan ulama lainnya.
Setelah menjadi alim yang rasikh ilmunya, pengembaraan intelektual Abuya Muhibuddin Waly dilanjutkan ke Timur Tengah, tepatnya di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir dalam rentang tahun 1964-1971 ia bermukim di sana dan belajar dari para ulama besar Mesir di antaranya Syekh Muhammad Abu Zahrah sang pengarang terkenal, Syekh Ali Sayis dan para ulama lainnya. Di Mesir Abuya sering berziarah ke Maqam Imam Syafi’i, karena kata Syekh Muda Waly “Kiyai Siradjuddin Abbas (pengarang 40 Masalah Agama) dapat berziarah ke Makam Imam Syafi’i sedangkan aku belum pernah”.
Demikian keinginan yang pernah didengar dari ayahnya Syekh Haji Muhammad Waly. Berkat doa ayah dan para gurunya, dalam masa 6 tahun beliau telah menyelesaikan program doktornya di universitas tertua di dunia Al Azhar Syarif Mesir tanpa melalui jalur S-1 dan S-2 yaitu dengan penyetaraan ijazah dalam bidang Ushul Fiqih pada level starata dua dengan Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhan Haji. Disertasi yang diangkat mengenai ‘Ijtihad Dalam Fikih Islam’, yang kemudian diringkasnya menjadi pidato pengukuhan gelar Profesornya di Institut Ilmu Al Qur’an Jakarta pada tahun 1988, dikukuhkan langsung oleh Rektor IIQ Jakarta Prof. KH. Ibrahim Hosein, LML Legenda Fatwa Indonesia yang juga lulusan Al Azhar Mesir.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktornya, Abuya Muhibbuddin Waly ‘hijrah’ ke daerah Ibukota. Dr KH Muhibbudin Waly menjadi dosen di beberapa lembaga baik formal maupun nonformal. Selain sebagai dosen, beliau juga menyampaikan ceramah-ceramah tasawufnya di Pengajian Tinggi Mesjid Istiqlal Jakarta tiap minggu pagi. Kemudian isi pengajian tersebut dibukukan dan dicetak sebagai syarahan dan penjelasan lengkap untuk Kitab Hikam Imam Ibnu ‘Attaillah al-Sakandary. Menurut almarhum Kiyai Haji Maskur (mantan Menteri Agama Indonesia) keberadaan buku Kyai Muhibbudin Waly memiliki arti yang penting, karena sejauh bacaan Kiyai Masykur, belum ada karya ulama yang mensyarah Hikam secara panjang lebar dalam bahasa Indonesia kecuali dalam versi melayu lama karangan Tokku Pulau Manis Trengganu.
Abuya Muhibbudin Waly juga tokoh kunci Naqsyabandiyah Aceh dari silsilah ayahnya Syekh Haji Muda Waly. Selain memiliki ijazah dari ayahnya Syekh Haji Muda Waly, ia juga pernah mengambil ijazah dari beberapa ulama besar lainnya. Diantaranya dari Syekh Muhammad Yasin al Padani dalam seluruh sanad hadits, kepada Sayyid Syekh Muhammad Alawi al-Maliki dalam sanad keilmuan Islam, dan kepada Mursyid Qadiriyah Naqsyabandiyah dari Suryalaya Syekh Ahmad Sohibul Wafa’ atau dikenal dengan Abah Anom dalam Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, dan juga kepada Syekh Hisyam Kabbani pengganti dari Syekh Nazim Haqqani dalam Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah yang berpusat di Barat..
Demikian yang dapat disimpulkan, mari kita ikuti jejak beliau dengan menjadikannya salah seorang CENTRAL FIGURE dari sekian ulama lainnya. Jazaakumullah. Semoga bermanfaat. Wassalam,
Penulis : Tgk Asnawi Usman dikajhu.
Tanggal Kajian : 21 Desember 2022
🅒mediarmrb
Banda Aceh - Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh mengadakan pelatihan Imam dan Penceramah menjelang bulan Ramadhan, ini m...